profile & history

Bila ada yang mengatakan bahwa “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” maka saya yakin semua setuju: Betapa tidak dari seorang guru dapat dilahirkan orang orang hebat sekaliber Albert Einstein, misalnya.
Karena seorang guru pula ada siswa yang suka mata pelajaran tertentu dan juga membenci pelajaran tertentu. Saya pernah bertanya pada beberapa orang siswa mengapa ia suka pada pelajaran A dan membenci pelajaran B ternyata banyak alasannya karena gurunya. Jadi Betapa attitude guru bisa menjadi penentu seorang siswa. Jadi harusnya seleksi seorang guru harusnya lebih ketat dilihat dari kemampuannya dia mengajar, kepintaranya secara akademis, kesabarnya menghadapi anak serta akhlaknya yang baik.
Betapa takutnya anak saya yang ketika itu mau sekolah SD gara gara guru kelas I nya galak dan tidak sabaran. Betapa beban psikologis anak saya terganggu sampai sekarang. Saat saya konsultasikan ke psikiater, ternyata tidak ada gangguan dari segi intelektualitas anak tapi karena tekanan guru yang mengajarnya dan menganjurkan pindah. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya bila prosentase guru yang demikian ada di Indonesia cukup besar, bagaimana nanti masa depan anak-anak kita.
Saya masih teringat terus kata-kata siswa saya ketika bertemu dengan saya,  bahwa dia terinsiprasi dan termotivasi hanya dengan cerita cerita saya saat sekolah dan kuliah di perguruan tinggi.  Betapa hanya dengan kata-kata biasa saja menurut saya bisa mempengaruhi anak didik kita begitu luar biasa. Apalagi bila ditambah dengan attitude yang luar biasa dari kita sebagai guru.

Seharusnya sertifikasi juga mengukurnya bukan secara akademis dan lamanya mengajar saja, tetapi juga penilaian siswa apakah gurunya sudah betul-betul menjadi figur yang membuat mereka nyaman belajar dalam artian siswa termotivasi untuk belajar dan mampu mengembangkan kemampuannya.
Saya sangat setuju dengan ide bahwa penilaain sertifikasi tidak hanya berdasarkan atas lamanya mengajar, tapi pada prestasi kerja, komitmen dan juga penilain anak didik. Kalau tidak punya komitmen, walaupun sudah disertifikasi masih tetap ogah-ogahan mengajarnya. Diusamping mengajar, guru juga diharapkan bisa memotivasi kepada siswa dan mampu memberi tauladan kepada siswa-siswanya.
Keberhasilan seorang guru bukan terletak dari kemampuan mengumpulkan harta kekayaan atau uang yang banyak. Meskipun, ini menjadi indikator yang paling utama dalam kehidupan. Guru tidak akan pernah bisa kaya seperti pengusaha ataupun kaya seperti seorang pemilik saham, tetapi yang jelas seorang guru akan tetap kaya akan ilmu. Kekayaannya tidak akan ada habisnya bahkan sampai ketika namanya masih digunakan walaupun ia telah tiada. Kenangan akan kekayaan seorang guru yang tulus dalam menjalani profesinya akan tetap membekas di dalam ingatan para murid-muridnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s